CAGAR ALAM TANGKOKO BATUANGUS

batuangus4

Cagar Alam Tangkoko Batuangus adalah cagar alam yang ter;etak di Kecamatan Bitung UtaraKota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Cagar alam seluas 8.745 hektare ini merupakan tempat tinggal alami dari spesies hewan Tarsius yang langka. Di dalam kawasan cagar alam ini, terdapat juga Taman Wisata Batuputih dan Taman Wisata Alam Batuangus. Secara geografis, cagar alam Tangkoko Batuangus berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Duasudara. Kawasan cagar alam ini dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara.

Cagar Alam Tangkoko Batuangus  merupakan daerah yang landai sehingga banyak terdapat perbukitan yang terdiri dari hutan pantaihutan dataran rendahhutan pegunungan, dan hutan lumut. Di kawasan cagar alam ini pun juga memiliki dua puncak gunung yaitu, Gunung Tangkoko Gunung Dua Saudara, serta Gunung Batuangus. Selain itu terdapat juga Dataran Tinggi Pata.

Di kawasan cagar alam ini, anda juga dapat menemui hutan hujan yang didominasi oleh berbagai jenis flora seperti pohon ares, pohon gora hutanmangga hutan, dan pohon nantu. Sedangkan di kawasan hutan lumutnya anda bisa menjumpai bunga yang sangat langka yaitu bunga edelweiss dan berbagai spesies kantong semar, salah satunya yang memiliki spesies Nepenthes maxima.

Selain keberagaman jenis flora yang indah, Cagar Alam Tangkoko juga menyimpan banyak spesies binatang langka dan yang menjadi fauna primadona sekaligus menjadi mascot dari Cagar Alam Tangkoko adalah spesies tarsius.

Berbagai jenis fauna bisa anda temukan saat sedang berkunjung ke Cagar Alam Tangkoko Batuangus antara lain, Monyet hitam sulawesiTarsiusKuskusAnoaTupai, dan juga Musang Sulawesi.

Tarsius, yang merupakan fauna endemic Cagar Alam Tangkoko sekaligus menjadi mascot dari cagar alam ini bisa ditemukan di Taman Nasional Tangkoko Dua Sudara yang terletak di utara Pelabuhan Samudera Bitung tepatnya di kaki Gunung Dua Saudara, sekitar 60 km dari Kota Manado. Area seluas 90 km persegi ini menggabungkan garis pantai yang panjang dan perairan dengan terumbu karang yang indah. Ini tidak hanya rumah bagi ribuan tarsius, namun juga habitat bagi hewan-hewan yang dilindungi lainnya seperti kawanan burung maleo, rangkong, anoa dan babirusa.

Tarsius merupakan hewan endemik Sulawesi. Hewan unik ini memiliki kepala yang dapat diputar 180 derajat. Selain itu, darah tarsius setelah diteliti tim dari Australia ternyata berjenis darah ‘O’ seperti pada manusia. Primata paling kecil ini hanya memiliki panjang 10-15 cm dengan berat maksimal 80 gram. Keunikan yang dimiliki oleh Tarsius ini telah membuat hewan ini diburu ilmuan dan wisatawan untuk diteliti atau diamati. Hingga kini jumlah tarsius terus berkurang dan termasuk hewan langka yang dilindungi.

Tarsius dapat melompat sejauh 3 meter atau hampir 10 kaki dari satu pohon ke pohon lainnya lalu menghilang dari pandangan Anda. Sifat tarsius sangat pemalu, tubuhnya berwarna coklat muda, kelima jarinya yang panjang memungkinkan menempel erat pada cabang pohon. Apabila Anda perhatikan jari-jari tersebut memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar. Tarsius memiliki ekor panjang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya.

Ukuran matanya besar dan mungkin ukuran mata tarsius ini lebih besar daripada ukuran otaknya. Matanya yang besar sangat bermanfaat untuk aktifitas malam hari. Jadi, memang hewan ini cenderung dapat ditemui sore hingga malam hari sedangkan siang hari lebih banyak dihabiskan untuk tidur. Mangsa mereka adalah serangga seperti kecoa, jangkrik, kadang juga reptil kecil, burung, dan kelelawar.

Tarsius tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Hewan ini tidak dapat berjalan di atas tanah, mereka langsung melompat ketika berada di tanah. Selain itu bintang langka dan unik ini sulit untuk dikembangbiakan di luar habitatnya karena jika ditempatkan dalam kurungan maka tarsius akan stres lalu melukai dirinya sendiri hingga mati.

Ada 9 jenis tarsius di dunia, 2 di Filipina dan 7 sisanya terdapat di Sulawesi. Dua jenis spesies tarsius yang paling terkenal terdapat di Indonesia yaitu adalah tarsius hantu dan tarsius kerdil atau krabuku kecil. Tarsius pumilus merupakan jenis tarsius terkecil dengan panjang tubuh hanya antara 93-98 milimeter dan berat 57 gram. Panjang ekornya antara 197-205 milimeter.

Bukan hanya karena keberadaan tarsius saja tetapi Taman Nasional Tangkoko juga telah menarik ilmuan dari berbagai belahan dunia sejak dahulu. Alfred Russle Wallace tahun 1850 meneliti tempat ini untuk melihat langsung hewan unik maleo dan babi rusa. Karena penelitiannya sekarang kita mengenal batas imajiner Garis Wallace yang telah membagi dua kelompok satwa antara Bali dan Kalimantan terus ke Selatan. Garis ini juga menjadi batas perpaduan zoogeografi dua wilayah yaitu Asia dan Australia.

Pada tahun 90-an, Tangkoko juga menjadi lokasi penelitian burung rangkong. Saat itu peneliti Margaret F Kinnaird dan Timothi O’Brien membandingkan kekayaan hutan-hutan di Sumatra dan Sulawesi sebagai habitat burung rangkong yang kaya akan makanan. Hasilnya, ternyata Tangkoko memiliki spesies buah yang lebih melimpah untuk daripada hutan-hutan di Sumatra untuk dikonsumsi oleh rangkong.

Untuk menuju Taman Nasional Tangkoko maka Anda perlu mengarahkan tujuan ke Bitung yaitu sekitar 70 km dari Manado ibu kota Sulawesi Utara. Perlu waktu 1 jam berkendara dari Manado ke Bitung kemudian 45 menit lagi ke Batuputih sebagai destinasi menarik di Tangkoko.

Untuk akses menuju taman nasional ini, jalannya sudah diaspal dan dapat dilewati mobil.

Anda dapat menumpang bus umum selama 1,5 jam dari Paal II Manado ke terminal Tangkoko di Bitung. Berikutnya turunlah di Girian untuk melanjutkan perjalanan 1 jam dengan kendaraan umum bak terbuka. Alternatif lain adalah menyewa mobil.

Di pintu gerbang Batuputih Anda dapat melihat pohon yang tinggi menjulang. Ada juga pantai yang indah dan rest area. Di pintu gerbang kedua tersedia shelterbagi peneliti yang umumnya berasal dari mancanegara.

Lebih baik Anda membawa makanan sendiri atau membelinya dari Bitung atau Manado. Ini jelas karena penjelajahan di dalam hutan perlu membawa bekal yang cukup. Anda juga sebaiknya tidak membuang sisa makanan di hutan, membakar ataupun menguburnya.

Beberapa tips tambahan yang perlu anda perhatikan saat sedang berkunjung ke Cagar Alam Tangkoko Batuangus.

  • Persiapkan semua bekal Anda selama trekking, terutama sepatu gunung dan peralatan naik gunung.
  • Waktu untuk melihat tarsius adalah saat menjelang malam terutama sore hari saat mereka keluar untuk mencari makanan dengan berpindah dari satu pohon ke  pohon yang lain.
  • Tarsius termasuk hewan langka yang kecil dan pemalu jadi Anda perlu cermat mengamatinya dan lebih penting apabila Anda meminta seorang pemandu yang mengenal tempat ini untuk menunjukan lokasinya.
  • Tangkoko dihuni oleh banyak serangga yang disebut dengan gonones atau agas. Apabila serangga ini menggigit bisa menyebabkan bintik-bintik merah di kemudian hari. Oleh sebab itu selalu kenakan celana panjan dan kaus kaki, kenakan sepatu tertutup serta lotion anti serangga.
  • Bawalah selalu uang tunai karena menemukan ATM terblang jarang di sana.

SELAMAT BERWISATA

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *